Langsung ke konten utama

Sebungkus Rokok dan Makanan di Malam Rabu yang Dingin



Malam tadi saya tiba di kediaman saya, bersama ayah yang telah selesai mengebor tembok rumah teman beliau, untuk ditempelkan tempat gantung kandang burung. Setiba saya di rumah, saya melihat gawai, tak terasa waktu telah menandakan pukul 23.21 WIB. Begitu malam untuk seseorang yang habis bertamu dari rumah orang lain.

Selanjutnya, saya membereskan beberapa peralatan yang telah selesai dipergunakan untuk diletakkan di tempatnya kembali. Kemudian, saya mulai bersiap-siap untuk menuju kamar tidur. Namun sebelum itu, saya membersihkan badan dari sisa-sisa kotoran yang masih melekat di beberapa anggota tubuh saya, untuk memberikan rasa nyaman kepada diri saya sendiri.

Setelah dianggap bersih, saya bergegas menuju kamar tidur untuk merebahkan seluruh tubuh saya yang merasa sudah terlalu capek dan pegal sebab aktifitas seharian penuh yang melelahkan. Tiba-tiba, belum beberapa menit saya merebahkan badan, saya dipanggil oleh ayah untuk bersedia membelikan beliau sebungkus rokok diluar. Sempat ingin menolak, namun terpikir oleh saya, bahwa saya juga belum makan malam. Jadi saya segera menghampiri ayah, untuk mengambil uang yang sudah siap untuk membeli sebungkus rokok. Hitung-hitung sebagai imbalan, ayah juga memberikan uang untuk membeli makan malam saya, lalu dibenak saya, begitu bersyukur alhamdulillah bisa hemat uang :D hehehe.

Kemudian setelah semua lengkap, saya bersiap mengeluarkan motor, dan melaju secara santai menikmati suasana malam hari di desa saya. Dari situ cerita malam saya dimulai. Berawal dari kegabutan atau bisa dikatakan waktu nganggur, lalu pergi keluar di malam hari, banyak hal yang saya temui di sekeliling saya bersepeda motor. Apa saja itu?  Mari terus ikuti cerita ini...

Enjoy dan perlahannya saya bersepeda motor, sambil menikmati indahnya malam hari dengan ditemani cahaya rembulan serta kelap-kelip para bintang, lalu ada hal yang saya tidak biasa temui, saya bisa temui di malam ini. Apa itu? Hal itu adalah keramaian para pekerja keras yang masih bersemangat untuk mencari nafkah bagi dirinya atau juga untuk keluarganya. 

Bayangkan, bapak-bapak berumur kurang lebih 45 tahun ke atas, masih tegar dalam mengayuh becaknya untuk membawa 4 penumpang begitu juga barang bawaannya. Saya sempat mengikuti arah laju bapak tersebut, karena kebetulan jalan yang beliau lalui sama dengan arah tujuan saya. Bila diperkirakan jarak tempunya, bapak tersebut mengayuh becaknya dengan beban sebanyak itu berkisar 4-5 km. Dimana suasana saat ini di daerah saya adalah suasana angin kencang, ditambah kondisi malam yang terbiasa beriklim dingin. Terlebih lagi, bapak itu hanya menggunakan pakaian ala kadarnya, tanpa ada embel-embel penghangat di tubuh beliau dengan suasana dan kondisi seperti ini. Selanjutnya, saya berpisah dengan bapak itu, karena saya melanjutkan perjalanan untuk tujuan saya semula, yaitu sebungkus rokok dan makan malam. Semoga bapak tadi, diberikan kelapangan rezeki, dan diberikan kesehatan selalu oleh Tuhan, aamiin.

Selanjutnya, saya meneruskan perjalanan dan tidak begitu lama, saya sampai ditujuan. Warung rokok yang bersebelahan agak jauh dengan warung makan, mungkin selisihnya hanya 15 meter saja. Saya mulai memesan makan malam saya terlebih dahulu, sembari menunggu, saya membeli sebungkus rokok juga. Ada satu hal yang membuat mata saya fokus kembali sembari menunggu makan malam saya selesai. Apa itu? Ada sepasang suami istri, yang sudah sepuh (tua) berjalan kaki dipinggiran aspal jalan raya, entah dari mana menuju kemana, saya belum tau. Terlepas dari hal itu, mereka bisa dikatakan miris, kenapa? Ya coba dipikir, bapak ibu yang sudah tua, dimalam hari berjalan kaki jam segini, untuk apa? Pakaian yang begitu lusuh, kotor, bagai 3 hari tidak berganti-ganti, dan mungkin saja mereka belum makan, namun tetap berjalan untuk mencari tempat layak untuk beristirahat.

Saya terlamun lama, kemudian bapak warung yang mengagetkan saya, untuk memberi tau bahwa makanan saya sudah jadi dan menunggu untuk dibayar. Lamunan saya buyar, lalu melihat kesana kesini, ternyata bapak dan ibu tadi sudah tidak terlihat lagi... entah setelah melihat mereka tadi, saya terlalu dalam melamun, hingga tidak merasakan bahwa mereka sudah berjalan jauh, dan menghilang dari titik pandang saya.. akhirnya saya memutuskan untuk pulang, dan tidak lepas saya berdoa agar bapak dan ibu tadi mendapatkan apa yang sedang mereka inginkan, dan tetap selalu dalam lindungan Tuhan, aamiin.

Sesampainnya saya di rumah, langsung saya berikan sebungkus rokok pesanan ayah tadi dan menyiapkan keperluan makan malam saya. Setelah makan, saya mengecek kembali gawai, ternyata tidak terasa jam menunjuk pukul 00.45, menandakan bahwa telah berganti tanggal dan hari, dimana hari ini adalah hari kamis dengan suasana dini hari. Saya mulai berberes-beres, membersihkan keperluan makan dan yang lainnya, lalu bersiap untuk tidur.

Sebelum tidur, saya sempat memikirkan kembali kejadian tadi. Bahwa beruntungnya saya, yang masih diberikan rezeki yang begitu melimpah hingga tidak harus saya keluar malam untuk bekerja bersanding dengan dinginnya malam, dan juga disediakan tempat tinggal yang sangat layak untuk didiami. Saya mulai paham, bahwa tuhan telah memilihkan jalan hambanya masing-masing, dan Dia adalah dzat yang Maha Adil serta Maha Mengetahui dari segala makhluknya. Semoga Tuhan tetap melindungi hamba-hambanya dimanapun dan kapanpun itu, aamiin...

Kemudian saya terlelap tidur bersama sunyinya dini hari...



Ikuti terus blog saya, InsyaAllah saya akan tulis terus cerita maupun kisah "Perjalanan di Malam Hari"
semoga bermanfaat, dan menambah ilmu kita masing-masing aamiin..
Untuk kritik dan saran, maupun request untuk cerita lainnya, silahkan tinggalkan jejak di komentar...















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Balasan Yang Bukan Harapan

  Masa SMA adalah masa yang paling indah bagi kebanyakan orang. Sebab, pada masa itulah kita atau sebagian orang-orang mulai mengenal jati diri, juga mendalami arti sebuah perasaan. Diantara orang-orang itu, aku adalah salah satunya. Adinda Anastasya, itu nama lengkapku yang telah diberikan oleh kedua orang tuaku. Tasya,   panggilan akrab yang diberikan teman-teman saat di sekolah. Aku bersekolah di SMA swasta yang cukup favorit di daerah aku tinggal. Di sekolah, aku adalah cewek yang biasa-biasa saja, tidak terlalu cantik jika dibandingkan dengan cewek lainnya, aktif dan sering bergaul bersama teman-teman. Ceritaku dimulai dari situ… “Kring, kring, kring” bunyi alarm yang menunjukkan pukul 05.00 pagi, aku mulai membuka mataku, lalu berkata dalam hati, “Selamat pagi dunia (dengan sangat bersemangat)”. Kemudian, aku melakukan aktivitas pagi seperti cewek-cewek pada umumnya. Ku mulai mandi terlebih dahulu, sarapan, lalu berangkat menuju sekolah. Berjalan kaki adalah kebiasaank...

BAHAGIAMU, BAHAGIAKU JUA

  Aku tahu, Kita sama-sama putus asa Dalam menjalani hidup yang penuh lika-liku Selalu ada nestapa tanpa harsa Sering kali, Kita berpikir tuk mengakhiri semuanya Mengakhiri hidup yang penuh derita ini Merasa tak ada harsa yang tersisa Tetapi Tetaplah bahagia  Kita hadapi nestapa ini Meski nestapa enggan tuk sirna Bahagiamu adalah bahagiaku jua Senyummu adalah pelipur laraku Tawamu adalah penghilang asa Tangismu adalah kelemahan untukku Marilah Kita bersama tuk menghapus nestapa Melawan rasa lelah Untuk menggapai setitik harapan