Aku tahu, Kita sama-sama putus asa Dalam menjalani hidup yang penuh lika-liku Selalu ada nestapa tanpa harsa Sering kali, Kita berpikir tuk mengakhiri semuanya Mengakhiri hidup yang penuh derita ini Merasa tak ada harsa yang tersisa Tetapi Tetaplah bahagia Kita hadapi nestapa ini Meski nestapa enggan tuk sirna Bahagiamu adalah bahagiaku jua Senyummu adalah pelipur laraku Tawamu adalah penghilang asa Tangismu adalah kelemahan untukku Marilah Kita bersama tuk menghapus nestapa Melawan rasa lelah Untuk menggapai setitik harapan
Masa SMA adalah masa yang paling indah bagi kebanyakan orang. Sebab, pada masa itulah kita atau sebagian orang-orang mulai mengenal jati diri, juga mendalami arti sebuah perasaan. Diantara orang-orang itu, aku adalah salah satunya. Adinda Anastasya, itu nama lengkapku yang telah diberikan oleh kedua orang tuaku. Tasya, panggilan akrab yang diberikan teman-teman saat di sekolah. Aku bersekolah di SMA swasta yang cukup favorit di daerah aku tinggal. Di sekolah, aku adalah cewek yang biasa-biasa saja, tidak terlalu cantik jika dibandingkan dengan cewek lainnya, aktif dan sering bergaul bersama teman-teman. Ceritaku dimulai dari situ… “Kring, kring, kring” bunyi alarm yang menunjukkan pukul 05.00 pagi, aku mulai membuka mataku, lalu berkata dalam hati, “Selamat pagi dunia (dengan sangat bersemangat)”. Kemudian, aku melakukan aktivitas pagi seperti cewek-cewek pada umumnya. Ku mulai mandi terlebih dahulu, sarapan, lalu berangkat menuju sekolah. Berjalan kaki adalah kebiasaank...