Langsung ke konten utama

Balasan Yang Bukan Harapan

 

Masa SMA adalah masa yang paling indah bagi kebanyakan orang. Sebab, pada masa itulah kita atau sebagian orang-orang mulai mengenal jati diri, juga mendalami arti sebuah perasaan. Diantara orang-orang itu, aku adalah salah satunya. Adinda Anastasya, itu nama lengkapku yang telah diberikan oleh kedua orang tuaku. Tasya,  panggilan akrab yang diberikan teman-teman saat di sekolah. Aku bersekolah di SMA swasta yang cukup favorit di daerah aku tinggal. Di sekolah, aku adalah cewek yang biasa-biasa saja, tidak terlalu cantik jika dibandingkan dengan cewek lainnya, aktif dan sering bergaul bersama teman-teman. Ceritaku dimulai dari situ…

“Kring, kring, kring” bunyi alarm yang menunjukkan pukul 05.00 pagi, aku mulai membuka mataku, lalu berkata dalam hati, “Selamat pagi dunia (dengan sangat bersemangat)”. Kemudian, aku melakukan aktivitas pagi seperti cewek-cewek pada umumnya. Ku mulai mandi terlebih dahulu, sarapan, lalu berangkat menuju sekolah. Berjalan kaki adalah kebiasaanku untuk menuju sekolah, ya memang karena jarak rumah dan sekolahku tidak terlalu jauh.

Di tengah-tengah perjalanan, tanpa sengaja aku melihat sosok yang aku kagumi selama ini. Dia adalah Sandika Rahza Mahesa, cowok idaman para cewek di sekolah. Berpawakan tinggi, cool, dan poin plusnya adalah dia mahir dalam banyak hal. Namun sayang, aku hanya bisa mengaguminya secara diam saja.

Lalu aku tersadar dari lamunanku saat dia mengatakan, “kenalin nama aku Dika”. Speccles aku terdiam, dan dengan suara gagu, aku menjawab, “Eh iya, aku Tasya”.

Dari situlah hubungan itu menjadi lebih dekat. Kita mulai sering bertemu, tapi pertemuan kali ini bukan tanpa sengaja, seperti kemarin-kemarin. Kali ini, kita membuat janji untuk bertemu.

Tak terasa aku sudah sampai di sekolah, tanpa disadari aku senyum-senyum sendiri, sampai ada temanku yang mengagetkanku. Jujur, hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagiku.  Sebab, banyak hal terjadi hari ini diluar bayangku sebelumnya, “Mimpi apa semalam ya bisa ketemu dia”, gumamku dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.

Setelah kejadian itu aku sering sekali bertemu dengan dia. Begitu seringnya aku bertemu dengan dia, hingga tidak ada rasa canggung lagi, jika harus berkomunikasi secara langsung dengannya. Namun, aku tetap tak mampu untuk bisa mengungkapkan secara langsung perasaanku kepadanya. Hingga saat itu terjadi.

Disuatu pagi, aku menjalani rutinitas seperti biasanya. Namun yang membedakan kali ini adalah hari ini aku bangun kesiangan, akibatnya aku berangkat sekolah dengan terburu-buru. Kemudian saat di jalan, aku tak sengaja menabrak seseorang, “Dubroak, ya ampun, pake nabrak orang lagi (dalam hati). Aduh maaf ya mas, saya terburu-buru soalnya (sambil berusaha untuk berdiri, dan melihat orang tersebut)”. Seketika aku kaget, karena orang yang ku tabrak adalah dia. Iya dia, Dika. “Oh ya gapapa, lain kali hati-hati yaa (tersenyum padaku)” ujar Dika kepadaku. Saat itu rasanya waktu berhenti dan jantungku berdetak sangat kencang.

Dengan seiiring berjalannya waktu, semakin seringnya kita bertemu, aku malah tambah mengaguminya. Akan tetapi aku sadar, dia sosok yang tak mungkin jadi milikku. Namun, disisi lain aku juga percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Sang Pencipta.

Angin malam yang seakan-akan bersenandung dengan diiringi suara jangkrik. Aku terdiam, di balkon kamar. Menikmati malam yang begitu sunyi. Lau kesunyian, itu dipecahkan oleh suara notifikasi yang memang aku tunggu.

*Notifikasi : Dika

“Malam Tasya, besok ketemu ya di tempat biasa, ada yang perlu aku omongin sama kamu J, ok?”

Dari notifikasi itu, aku sudah berkhayal kalau dia akan mengutarakan cinta padaku. Ya walaupun, belum pasti kebenarannya seperti itu, tapi semoga saja lah, hehehehe.

“Ok, siap Dik, aku mah kalau kamu, selalu iyain aja, hehehehe

Keesokan harinya, aku terbangun dengan senyuman dan semangat, kenapa? Karena hari ini, Dika mau mengutarakan perasaannya padaku.

Tibalah waktu dimana aku akan bertemu dengan Dika. Lalu ku bergegas untuk segera berangkat, setelah sesampainya di sana, ternyata dia belum dating.

 “Mungkin dia masih mempersiapkan semuanya supaya terlihat romantis gitu”, gumamku dalam hati.

Setelah begitu lama menunggu, akhirnya Dika datang.  Saat dia datang, ternyata tidak seorang sendiri, namun ada orang lain di samping nya. Yaitu seorang cewek cantik, putih, berpostur tinggi untuk seukuran cewek. Pada saat itu, aku masih berpikir positif. “Ah, mungkin hanya temannya saja”, dalam hati. Selang beberapa waktu, Dika menyapaku.

“Hai Tasya”

“Hai (Senyum)”

“Oh iya, maaf udah bikin kamu nunggu. Tadi ada kelas tambahan, dan juga masih nunggu Oza juga”.

“oh iya, gapapa kok, aku juga baru sampai juga.”

“Eh, sampai lupa. Kenalin, ini Oza dan Oza ini Tasya.”

“Hai Tasya”

“Hai Juga Oza, salam kenal ya”

“Oh iyaa, apa yang kamu mau omongin Dik?”

“Gini Tas, aku mau kamu jadi saksi”

“Saksi? Saksi apaan?, emang kamu udah mau nikah? Hehehe.”

“Gila pikirannya kemana-mana. Dengerin dulu aku ngomong.”

“Heheheh, map-maap ya”

“Hari ini, aku pengen ngungkapin perasaan ku ke Oza (sambal memegang tangan Oza).

Oza Alvionik, aku tau mungkin ini bukan cara yang romantis serta waktu yang tepat. Tapi hari ini, di tempat ini dan disaksikan oleh Tasya yang sudah aku anggap sebagai sahabatku, Aku Sandika Rahza Mahesa ingin menegaskan. Mau kah kamu jadi pacarku?”

“Apa? Dka mengatakan itu di depanku? Sahabat? Dia hanya menganggapku sebagai sahabat?”

Sejak hari itu hatiku hancur, begitu hancur untuk bisa dirangkai lagi. Harapanku untuk bersamanya sudah tidak ada lagi. Dia sudah memilih gadis lain untuk menjadi pasangannya.

Tapi tak apa, sedari awal aku memang salah. Aku terlalu berharap padanya. Aku terlalu mengandai bahwa perasaan ku akan dibalasnya. Padahal aku tahu berharap pada manusia menimbulkan kecewa. Dan seharusnya aku juga tau, bahwa mencintai seseorang tidak perlu meminta balasan, akan tetapi jika dia membalasnya, maka anggaplah itu sebuah bonus dalam mencintai seseorang.

Mungkin ini teguran bagiku, terlalu mengagumi ciptaan-Nya, dibandingkan dengan Sang Pencipta. Dan percayalah, ada hikmah di balik semua ini. Rencana Tuhan pasti lebih baik daripada rencana kita.

Penulis : Fhin

Editor : qyn

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BAHAGIAMU, BAHAGIAKU JUA

  Aku tahu, Kita sama-sama putus asa Dalam menjalani hidup yang penuh lika-liku Selalu ada nestapa tanpa harsa Sering kali, Kita berpikir tuk mengakhiri semuanya Mengakhiri hidup yang penuh derita ini Merasa tak ada harsa yang tersisa Tetapi Tetaplah bahagia  Kita hadapi nestapa ini Meski nestapa enggan tuk sirna Bahagiamu adalah bahagiaku jua Senyummu adalah pelipur laraku Tawamu adalah penghilang asa Tangismu adalah kelemahan untukku Marilah Kita bersama tuk menghapus nestapa Melawan rasa lelah Untuk menggapai setitik harapan